*repost, cerpen dari Soclamild93, myEx-Blog
I’m Zeefa not Syifa
“Hanya sebatang class mild dan
secangkir kopi yang menemaniku malam ini, demi membunuh waktu yang kejam
memberikanku seribu satu cerita dan hari-hari yang amat membosankan, tidak ada
yang menarik, menutup mata dan berbaring malah akan membuatku berfikir panjang,
kasihan badan ini sudah kurus kering tidak terurus, kulit kusam, wajah yang
tidak menarik dan sama sekali tidak bisa memikat hati lelaki, boro-boro mau
pacaran, sendiri tanpa komplen orang lain adalah lebih baik”
Kurang lebih seperti
itulah yang menjadi status di facebook yang barusan ku ketik malam ini,
istilahnya status koran hahaha, hanya status palsu. Kenyataannya aku tengah
berada di antara sahabat karibku, teman sepenanggungan sejak bergabung di Lensa Band bareng mulai dari SMA sampai
menginjak dunia kampus saat ini, yah meskipun berbeda kampus tapi aku lebih
nyaman tinggal dan ngekos bareng mereka. Ivan, Yogi dan Rendy sudah ku
anggap saudara. Bukan berarti aku tidak punya temen cewek, punya sih temen
kampus tapi males ajha nongkrong ma mereka bawaannya rese’ sukanya gossip dan
obrolannya tentang dandan dan cowok yang sama sekali tidak bisa ku mengerti.
“woy,
ngelamun, update status apakah? Pasti rese’ toh”
“aiii,,tidak bisa dibiarkan ini, ada cowok galau,,patah hatikah?..hahaha” suara gelak tawa anak-anak membuyarkan lamunanku, kembali aku diejek seperti biasanya.
“aiii,,tidak bisa dibiarkan ini, ada cowok galau,,patah hatikah?..hahaha” suara gelak tawa anak-anak membuyarkan lamunanku, kembali aku diejek seperti biasanya.
“sial
ini, kenapa mau sekali tau urusan orang kah? Kau tidak tau habis kuputuskan lagi
anaknya orang” jawabku menimpali guyonan mereka.
Logat Makassar yang
lumayan mentok dengan sekali-kali mengeluarkan istilah khas anak muda di
kalangan kami sekarang adalah hal yang sudah biasa dan tidak kaku lagi antara
aku dan mereka, meskipun itu adalah sebuah ejekan. Misalnya kata capi yang berarti sapi, malah akan
membuat kami tertawa lepas.
***
“oii, capi kuliah, bangun eee, woy
Yogi Rendy, kau tidak ada kuliahmu hari ini kah?” rutinitasku setiap hari
sebagai satu-satunya cewek dirumah kos ini adalah sedikit meluruskan masalah
negative yang menjadi kebiasaan anak-anak. Kalo tidak disadarkan maka akan
menjadi-jadi, seperti apapun kehidupan kami di kota ini kami harus tetap ingat
tujuan awal kami meninggalkan kampung menuju kota metropolitan ini, yaitu
belajar. Aku sendiri terkadang merasa ingin menangis jika tanpa sengaja
terlintas dibenakku tentang orang tuaku dan pesan-pesan sakral mereka “
Asyifah, kau jaga diri baik-baik nak, dikampung orang jangan banyak tingkah,
kuliah yang baik biar cepat kerja “. Asyifah
Nur Ilma adalah sebuah nama pemberian orang tuaku yang kurang lebih
memiliki arti sebagai pengobat cahaya ilmu, tapi seiring waktu dan pergaulan
aku lebih dikenal sebagai Zeefa yang
entah artinya apa.
“edede, setiap hari
begini, dibangunkan saja orang untuk kuliah, andai saja itu ada kopi sama roti
tiap pagi pasti anak-anak semua semangat bangun pagi dan kuliah” celetuk Rendy
dengan nada menyindir, tapi entah menyindir siapa. Yang kurang lebih artinya
dia berharap andai saja aku yang setiap pagi bertugas membangunkan mereka juga
menyiapkan sarapan lengkap akan membuat mereka lebih semangat, tapi apa boleh
buat ? tidak ada sarapan dalam kamus hidup kami kecuali ada rejeki mendadak,
syukur-syukur aku mau bangun tiap pagi, cukup dibangunkan dan selanjutnya
mengurus diri masing-masing, mandi dan ngampus, lalu survive disana.
Pagi ini kulangkahkan kaki
seperti biasanya menuju kampus, kebetulan jarak kos dengan kampusku tidak
begitu jauh, T-Shirt hitam jangkis bertulis Coffea,
topi pet dan celana yang sengaja dirobek dibagian lutut sebelah kiri sempurna
gaya Avril Lavigne pada salah satu video klipnya, my favorite Lady Rocker tapi
tentunya ditambah aksen Daypack Eiger ala anak outdoor nangkring di bahu
kiriku. Yogi dan Rendy sekampus dan mengendarai motor masing-masing karena
kampus mereka sekitar 15 kilo dari kos, Ivan cuti kuliah, saat ini dia bekerja
di salah satu alfa mart yang berada tidak jauh pula dari rumah kontrakan kami,
diantara kami, dialah yang kisah hidupnya paling tragis ditinggal mati orang tuanya yg
dituduh tukang ngepet dan dibacot massa, hari ini dia shift malam mungkin
sekarang masih melanjutkan mimpinya yang sempat kuusik tadi pagi.
***
Buukkkkk. Sebuah tonjokan mendarat indah tepat
diwajahku, dalam hitungan detik pun kurasakan hangatnya sebuah garis aliran
darah mengucur dari lubang hidungku, ini bukan karena mimisan. Dengan tanpa
melirik kearah setan yang menghajarku tadi, aku lebih memilih untuk mengambil
langkah seribu dan menghilang sampai menemukan persembunyian yang aman. “dasar buron, ni bayar sana utangmu!!!” Suara
seseorang yang tidak kukenal tiba-tiba mengagetkanku dan menjadi malaikat
penolongku, dengan segepok uang yang tanpa dihitungpun aku sudah tau nilainya
diatas lima belas juta langsung kusambat dan keluar dari persembunyian.
“woy, ni hutangku plus
bunganya plus bonus buat kau sampaikan sama bos mu Fuck You dari Zeefa” kataku dengan membabi buta menghantamkan
tinjuan pagi yang panas tepat diwajah orang yang selama ini menghantuiku. Kaki
tangan seorang rentenir yang selalu mencegatku di gerbang kuliah. Sekarang
dengan puas aku menyaksikan si konyong itu babak belur meninggalkanku dengan membawa uang yang ku
jejalkankan di rongga mulutnya. Seketika
penderitaanku berhenti karena utang yang selama ini mengejarku sudah kubayar
lunas, tapi ………
“haii, aku Zeefa, thanks
tadi kau tolong saya padahal kita belum kenal” kataku sambil menyalami cowok
yang terus melemparkan senyum manisnya dibalik sebuah kaca Honda Jazz hitam
yang mengkilap, jelas dia bukan cowok sembarang. “haii Zeefa, gue Nico pindahan
dari Malang mungkin lebih enak kalo ngobrol di café, loe ada waktu nggak ? bisa
temenin gue ?” katanya tanpa basa-basi. Wow, ternyata dia anak baru jelas
logatnya masih sangat kental, aku fikir first impressionnya baik aja kebetulan
memang aku gak suka basa-basi dan
gimanapun juga aku hutang budi plus hutang duit ma dia. “okee, kita ke Cora
aja” jawabku sambil menunjukkan café yang biasa jadi tempat nongkrongku.
***
@
café Cora. Obrolan yang spontan dengan logat Jakarta Geol membuat kami lebih
leluasa dalam berkomunikasi.
“ohh,
jadi orang tadi suruhan rentenir yang selama ini nguber Loe ?”
“iya, 3 bulan yang lalu gue ngutang sama bosnya”
“iya, 3 bulan yang lalu gue ngutang sama bosnya”
“emangnya
ngutang karena apa? Loe nge-drugs ? tu anak buahnya Bandar yah ?” pertanyaan
yang sontak membuat mataku membelalak.
“maksud
loe? Kalo ngomong jangan sembarang yah
baru aja kenal kirain loe anaknya asik ternyata comber” kataku dengan emosi
“loe marah? Gue kan cuman nanya kalo salah ya loe benerin, kirain loe Rock’n’Roll seperti gaya loe ternyata sensi juga seperti cewek pada umumnya” kata Niko dengan tanpa sedikitpun ekspresi bersalah.
“loe marah? Gue kan cuman nanya kalo salah ya loe benerin, kirain loe Rock’n’Roll seperti gaya loe ternyata sensi juga seperti cewek pada umumnya” kata Niko dengan tanpa sedikitpun ekspresi bersalah.
Waduh,
ni orang segitu belagunya, bilang sorry atau apapun kek skarang malah ngejek,
sial ballisikku (ungkapan kesal
bahasa Makassar).
“utang
gue ke elo berapa? Jangan-jangan loe bakalan lebih sadis nagihnya daripada
rentenir ntu yah” kataku sambil menyulut class mild yang sejak tadi nangkring
di jariku.
“kenapa
skarang ngomongin utang ? gue nanya apa loe ngejawabnya apa, gak nyambung
banget, loe ngerokok udah lama? Kok
class mild? Payah” katanya sambil meremas class mildku yang tinggal sebatang
itu. Dengan wajah merah padam dan entah harus berbuat apa, emosiku sudah bak
telur diujung handuk eeeee tanduk.
“sabar,
ntar gue gantiin Marlboro Pink” katanya sambil beranjak menuju kasir dan
meninggalkanku yang termangu bengong sendiri di sudut ruangan café.
***
“ahh
kau seriuskah? Tumben itu ada yang berani rese’ sama kau Zee”
“iya
nah, lama mi jadi Raja Lorong tidak ada yang berani ganggu” kata Ivan menimpali
gerutu Rendy. Anak-anak semua pada emosi mendengar keluhanku atas apa yang
terjadi pagi tadi. Bertemu orang aneh yang ternyata mahasiswa baru, seorang
pindahan dari Malang. Cowok tinggi putih mancung rambut cepak agak pirang
perfect dengan kaca mata hitam dan ngadem didalam Honda Jazz hitam mengkilap yang
entah milik pachenya alias bapaknya atau asli punya pribadi, who knows
???. Sayangnya, comber huuuuffftttt (“,)
.
“sial
itu, kau tidak tau alamatnya kah Zee ??? biar kita sikat malam ini saja” gerutu
Yogi yang memang temperamental.
“huss,
jangan gegabah ingat saya punya hutang sama dia” jawabku datar tanpa berfikir
sambil meneguk mocha float kesukaanku. Ups, aku keceplosan. 1 masalah yang kami
sembunyikan dari Ivan dan tidak boleh dia tau skarang akhirnya terbongkar. Aduh,
so stupid. Soryy Ren, Gy :-( .
“ongkos
rumah sakit waktu saya di opname dulu itu kalian ngutang kah ?” Tanya Ivan
penuh selidik. Diantara kami tidak ada yang bergeming sedikitpun, persaudaraan
sudah terlalu erat kami tahu masalah yang melanda Ivan sampai dia terkena shock
dan akhirnya cuti kuliah. Tidak mungkin kami beratkan ia dengan masalah baru
mengenai hutang. Akhirnya akupun memberanikan diri sebelum ia mengamuk dan
berujung parah.
“oke,
saya yang salah Van, sorry. Saya tidak sangka orang itu rentenir, hari itu
anak-anak juga tidak ada jalan lain makanya saya berani ngutang dengan jaminan
motornya anak-anak tapi melihat kondisi saya
terus menunda pembayaran sambil mencari cara bagaimana membayar utang
tanpa merepotkan anak-anak sampai berbulan-bulan dan ternyata berbunga dan
tidak mungkin saya sampaikan sama Yogi dan Rendy tentang keadaan yang seperti
itu” kataku terbata-bata. Ivan terlihat tampak kecewa sekaligus terharu.
Bagaimanapun kami mencoba melakukan yang terbaik, saling berbagi dan saling
menjaga.
“besok
saya akan ambil gaji dikantor supaya tidak ada lagi hutang, maaf kehadiran saya
merepotkan sampai membahayakan nyawa kalian cika’ saya minta maaf nah? Harusnya
tidak ada yang ditutupi antara kita, apa boleh buat” kata Ivan datar sambil
melangkah menuju kamarnya.
Hey hey you you
I don’t like your girlfriend
No way no way
I think you need a new one
Suara ringtone Girlfriendnya Avril Lavigne dari handphoneku mengagetkan kami
bertiga, hmm siapa yang nelfon tengah malam begini ? gak tau apa orang lagi
ribut.
“yups,
siapa ni?” sapaku ketus kepada sebuah panggilan nomer baru di sebrang.
“Zeefa,
loe sibuk gak ? jalan yuk, gua kangen” logatnya jelas sekali tidak membuat
ingatanku meleset dari biang kerok masalah malam ini.
“ehh
Jawa, ngapain loe nelfon ? ngajakin berantem atau mau nagih utang? Sabar donk
loe belom juga cukup sehari udah nagih aja”
“siapa
yang nagih? Kagak, skarang loe siap-siap yah gue jemput, kalo loe dengar
klakson mobil gue langsung keluar aja gak pake malu oke? Gue cuman nglakson
skali, ingat” klik.
Telfon
pun terputus mendadak. Sial, ni orang maunya apa ? bikin penasaran. Kulirik jam
menunjukkan pukul 3 dinihari, ni orang ngajakin keluar tapi karena penasaran
aku pun membulatkan tekad untuk masuk dalam permainan mahluk aneh yang 1 ini. Beberapa
detik setelah telfon mati kudengar klakson mobil tepat didepan rumah kami,
tanpa membuat anak-anak curiga akupun bergegas mengambil jacket Consina yang tergantung di dinding dan melangkah
menuju pintu meninggalkan Yogi dan Rendy yang seolah tidak terusik dengan
kesibukanku. “guys, saya keluar dulu nah cari minum” kataku pelan dan suara
yang agak ditahan. Tepat saja, didepan kontrakan sudah terparkir Jazznya si
belagu mahluk aneh bernama Nico.
“kita
mau kemana? Awas loe macem-macem gue bawa pistol” kataku sambil menunjukkan
pistol mainan alias imitasi yang selama ini selalu menjadi malaikat penolongku
saat dihadang preman jalan tengah malam. “haha santai aja, gue gak nafsu ma loe” kata
Nico sambil nancap gas poll. Kami berjalan menuju arah utara kota Makassar ku
fikir Nico akan membawaku ke pantai atau tanjung tempat orang biasa nongkrong sekarang
sudah melewati perbatasan kota kemudian mengambil jalur memutar menuju daerah
bukit dan mengarah ke bagian perbatasan timur Makassar. Aku jelas tidak begitu
kenal daerah ini, tapi kenapa Nico ……….. tiba-tiba ia menghentikan deru mobil
dan menarikku keluar dengan 1001 pertanyaanku. “kita da dimana sekarang???” tanyaku
dengan mata tertegun takjub melihat apa yang ada dihadapanku. Hamparan kota
Makassar dan tepian pesisir pantainya yang indah dengan kerlap-kerlip lampu
yang menghiasi malam dengan sinar rembulan yang begitu indah. Lalu lalang
kendaraan yang makin menambah corak keindahan Makassar yang tidak pernah tidur.
Saat ini kami sedang berada diatas punggungan sebuah bukit tepatnya dibagian
yang agak landai dengan rumputnya yang perak tertimpa cahaya dengan sebuah
pinus dipuncaknya yang berjarak hanya sekitar 5 meter dari tempatku berada,
tapi hanya dari tempat ini kami dapat menikmati pemandangan kota Makassar,
selain ini tidak ada lagi celah besar karena tertutup pinus dan bebatuan. Pinus
tunggal dipuncak bukit kini menarik perhatianku, byusss semilir angin berhembus
menyadarkanku tengah berada didaerah yang dingin. Segera ku kenakan jaket yang
tadi kusambar di dinding dan merogoh sakunya. Merokok akan membuat tubuhku
sedikit lebih hangat. Belum sempat ku isap class mildku Nico serta merta
menarik lenganku menuju pinus. Ternyata diatas sini jauh lebih indah, tak hanya
kulihat kota Makassar akan tetapi aku dengan jelas menyaksikan indahnya
pemandangan malam daerah pegunungan yang sebagian tertutup kabut di kejauhan
sana. Disana tentunya amat sangat dingin. Malam yang indah, langit yang cerah
dan bulan yang begitu terang, baru kali ini ku rasakan kedamaian yang membuatku
merasa nyaman, bahkan aku lupa untuk menyulut rokok yang tadi digenggamanku.
“ehh
emang loe ngerokok udah berapa lama?” Tanya Nico tiba-tiba. Tapi kali ini
suasana indah membuatku menjawab sekedarnya tanpa berfikir panjang apalagi
sensi atas pertanyaan-pertanyaan maut Nico.
“SMA,
kenapa emang ? “
“kagak,
nanya aja, trus loe make juga ? maksud gue loe nge-drugs?”
“ya
enggaklah, gue bukan orang mampu, buat makan aja musti banting tulang”
“tapi
loe tukang utang kiri-kanan, Bandar kemaren nagih apa kalo bukan utang
nge-drugs” kata Nico dan perlahan semakin mendekatiku. Skarang dia duduk tepat
dihadapanku dan serta merta menyadarkan aku bahwa betapa ia memiliki proporsi
wajah yang begitu sempurna. Omaigad. “loe cerewet amat, bawel loe, cakep sih
iya tapi sayang comber. Loe kok sentimen banget ma gue. Mau gue ngerokok
nge-drugs atau apapun istilah loe suka-suka gue apa urusannya ma loe? Haaa??
Gue ngerokok depresi pacar gue meninggal, gue ngutang itu buat bayar biaya
rumah sakit temen gue, ceritanya panjang”
“Syifa,
, ,” kata Nico sambil menatapku. “kamu lihat ukiran di batang pinus itu?” lanjutnya
sambil menerangi ukiran yang ia maksud dengan cahaya lampu handphonenya. Tampak
sangat jelas olehku sebuah ukiran “ S y i f a ” .
“siapa
dia ?” tanyaku. Ia pun menunjukkan sebuah foto. Pose cewek manis berjilbab
bertuliskan Syifa, mungkin itu namanya dan mirip wajahku beda hijab ma tai
lalat di pipi doank.
“ntu
cewek loe?” tanyaku
“mantan,,,”
jawab Nico menunduk.
“trus
kenapa liatin ke gue? Urusannya apa? Jangan mentang-mentang nama dan wajah gue
mirip loe mau seenaknya nge-claim gue cewek loe yah?”
“dia
jelas bukan loe, kalian jauh berbeda, dia berhijab loe nggak, loe ngerokok dia
nggak tapi loe hidup dia meninggal dipinus ini setahun yang lalu” katanya
sambil mengunci bibirku rapat dengan ciumannya yang membuatku tidak berkutik. Plakkkk, tamparan hangat menjadi
balasan yang tepat atas kelancangannya. Bersamaan dengan munculnya Ivan, Yogi
dan Rendy dari balik pinus dan menghajar habis Nico sialan itu. Cowok brengsek
seperti dia kasihan juga, menjadi korban kenangan pahit masa lalunya tapi tetap
kelancangannya tidak bisa dimaafkan.
“ehh
gue kan udah bilang loe salah orang kalo mau lancang ma gue, maksud loe apa?
Loe fikir gue gampangan? Gue bukan cewek loe? I’m Zeefa not Syifa” kataku
sambil merangkul saudara-saudaraku meninggalkan Nico dengan nasibnya yang
mengenaskan. Pelajaran terpenting don’t judge people by that real cover. Thanks
my brothe Yogi, Rendy, Ivan you save me.
**the end**
(cerpen ini kubuat saat masih berstatus mahasiswa baru, 2010-2011)
(cerpen ini kubuat saat masih berstatus mahasiswa baru, 2010-2011)