Saya dan semut di pantatku

Saya mendengar setiap tetes keringat yang keluar dari pori-pori kulitku. Saya mendengar setiap helai rambut yang patah dan jatuh menyentuh lantai. Saya mendengar setiap semut yang berlalu dibawah pantatku, berjalan di atas tanah yang kududuki, saya yang memasuki garisnya dan mereka tetap menjaga jalur kerja mereka yang berusaha kuputuskan, tapi saya gagal, mereka tetap bekerja, mereka berputar mengitari lingkaran duduk pantatku, mereka berbisik "lihatlah ada pekerja yang putus asa".
Ahh semut itu, semut nakal, kecil tapi nakal, lebih menggigit daripada orang besar yang biasa menggigitku, lebih mencubit dari gadis gadis yang biasa mencubitku, lebih pedis dari pedisnya   penis yang menusuk vaginaku, dan menghantam lebih dalam dari pukulan lelaki yang pernah menghantamku.
Ahh, semut itu, mereka bekerja untuk ratu, begitu giat, begitu tekun, apa semut itu pernah mengeluh, apa semut itu pernah menuntut sang ratu, apa semut itu pernah  menjadi sesuatu yang lain selain bekerja untuk ratu? Tidak.
Saya bukan semut, saya manusia. Semut bekerja karena mereka berasal dari jenis koloni semut pekerja, bukan karena ia mau atau tidak, bukan karena pilihannya seperti itu.
Saya manusia, saya berhak berbicara, saya berhak mendapat yang sesuai, saya berhak mencari lebih, dan saya takut.
Saya kembali ke sudut, saya sepertinya dihantui sesuatu, bukan pukulan, tapi ini serupa dengan itu. Serangkaian kata yang berputar dan bergelombang disekitar kepalaku, ahh itu membuatku pusing, dan saya benci kata-kata itu, saya takut gelombangnya terlalu keras, menghantam dada.
Saya, takut, semut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama