Cerpen: Kamu, Trianggulasiku


*re-post dari my eks-Blog Soclamild93
Kamu , Trianggulasiku
Perjalananan panjang yang ditempuh Erica, Sandra, Kiki yang dipandu oleh temannya yang sudah lebih berpengalaman dalam kegiatan outdoor tersebut, Danar, dalam pendakian menuju salah satu puncak pegunungan Latimojong tepatnya puncak Rante Mario dengan ketinggian 4868 mdpl. Dengan kisah-kisah canda tawa yang menjadi sebuah rangkaian cerita menarik dan unik. Persahabatan, pertentangan, kebencian dan dusta menjadi warna yang menemani perjalanan mereka. Dan kisah Erica yang “mungkin” masih menyimpan rasa kepada mantannya, Danar.
Hari pertama, di Baraka rumah keluarga Danar di kaki gunung Latimojong, Enrekang Sulawesi Selatan. “yok, masuk. Rumah ini kosong sejak 2 bulan lalu, om gue pindah tugas ke Timika” kata Danar sambil membereskan ruang tamu yang agak berdebu.
“toilet mana?” Tanya Sandra.
“elo kebelet? WCnya buntu, di sumur aja tuh, di belakang” terang Danar.
“bukan gue, Erica tuh” sambil melirik Erica yang celingak celinguk sok sibuk.
“wah masih gitu juga, dia gak berubah” jawab Danar dengan ekspresi datar dan berlalu meninggalkan teman-temannya.
Malam hari, berteman kopi susu dan kue-kue tradisional lumayan menghangatkan mereka di depan TV.
“besok langsung jalan? Pagi yah” Tanya Kiki kepada teman-temannya.
“sebaiknya sih gitu” jawab Sandra sambil menyeruput kopi hangatnya.
“jam 6 packing jam 7 berangkat” kata Danar. Tiba-tiba Erica nyeletuk “disini alfa mart jauh nggak? Gua lupa beli pampers, entar pipis gimana?
“dicelana” jawab Danar.
seketika jawaban Danar membuat merah padam pipi Erica entah karena emosi atau malu. Sementara Kiki dan Sandra saling menyikut dan tertawa.
***
Hari kedua. Setelah semalam mereka berjalan menuju desa terakhir di kaki pegunungan akhirnya pukul 10.45 WITA mereka pun tiba dan memutuskan untuk camp semalam sebelum melakukan pendakian yang sebenarnya sekaligus untuk memulihkan kembali tenaga mereka. Tenda pun didirikan dilapangan kecil tak jauh dari jalur pendakian.
“aduh, badan gue pegel semua, besok jangan langsung jalan yah” rengek Erica kepada teman-temannya.
“gak bisa gitu donk, semua harus sesuai planning. Liburan kita cuman seminggu loh disini itupun sebelum balik Jakarta musti singgah di Makassar dulu kan buat beli ole-ole? Loe lupa?” Sandra mengingatkan.
“jangan dipaksain, loe istirahat total malam ini, besok jalan slow slow aja, okee?” kata Kiki sambil menyulut rokok tembakau andalannya. Sementara itu Danar sibuk dengan perapian yang ia buat. Entah apa yang ia fikirkan.
Pagi harinya,
“move move move !!! habis sarapan, packing, kita langsung jalan guys”.
Pendakian pun dimulai dari pos nol ke pos 1 dengan melalui tanjakan-tanjakan ekstrim, terjal dan berbatu, hutan mulai gundul di jalur itu. dari pos 1 ke pos 2 mereka melalui hutan yang rapat dan bukit-bukit sampai disebuah sungai berbatu, di pos 2. Mereka menempuh kurang lebih 10 jam untuk mencapai pos 2. Waktu normalnya hanya sekitar 4 jam tapi Erica sepertinya bermasalah dengan kakinya.
***
@Pos 2.
“ahh shit!!! Kita jalan tuh lambat banget tau nggak!” keluh Danar
“mau gimana lagi, udah kejadian, slow aja” Kiki dengan gaya khasnya yang santai menimpali.
“enggak boleh gitu donk, planningnya nggak gini”
“planning ya rencana, realita ya fakta, susah amat”
“ahh susah ya ngomong ma loe” sementara Kiki dan Danar berdebat, Erica dan Sandra sedang memasak sambil menyiapkan makanan. Tapi perdebatan itu malah membuat tim dapur berhenti dan nimbrung.
“ehh loe nyindir gue?” kata Erica
“aduh Erica kok masaknya berhenti, masak lagi aja yok!!” Sandra bermaksud menenangkan Erica yang terbakar Emosi karena merasa disindir oleh Danar sebagai penyebab keterlambatan mencapai target pendakian.
“elo mau bilang gara-gara gue kan pendakian ini nggak sesuai rencana, gitu?” sambil menunjuk-nunjuk ke arah Danar dan sekuat mungkin menahan air matanya yang perlahan menetes.
“Ericaaaa…” Sandra membelai rambut Erica dan menariknya perlahan.
“yang ngomong gitu siapa? Enggak kok, Erica. Loe tuh malah kuat banget udah drop tapi loe bisa kan sampe disini, gua salut deh pokoknya” Kiki  mencoba menetralkan keadaan. Tapi Danar yang tersulut emosinya kembali memperkeruh keadaan.
“manja, gue wajar donk kalo ketus gini, gue leader kan disini? Gue berhak negur anggota yang salah atau semacamnya” sontak omongan Danar membuat ke tiga rekannya tampak membelalakkan mata.
“what? Beg you pardon? What the hell?”
“haa? Leader? Bukannya kita liburan? Enggak formalkan? Haloo” Kiki yang menyadari kondisi yang semakin buruk pun menengahi
“wets, mamen…loe bener-bener hebat deh, salut gua. Ilmu kepemimpinan loe mendarah daging, dan respon tanggung jawab loe besar banget, hebat poll” katanya
Danar serta merta menyadari kesalahannya lalu berkata “sorry…guaaa”
“laper ahh, makan yok” kata Erica ketus sambil menarik tangan Sandra dan berjalan menuju tenda dapur. Tapi Danar hanya membalas dengan nada sedikit meninggi “gua udah kenyang, kebanyakan makan angin”.
***
Di pos 2 udara yang luar biasa dingin mengharuskan mereka menggunakan jaket tebal dan menghangatkan diri depan perapian. Hanya ada 1 tenda Rei ukuran 4 orang. Sandra dan Kiki lebih memilih masuk kedalam Sleeping Bag (SB) sedangkan di pintu tenda ada Erica dan Danar. Danar memulai pembicaraan…basa basinya
“di pos 8 masih lebih dingin loh”
“gua tau kok”
“pendakian besok bakalan lebih terjal”
“gua tau”
“loe masih kesel ma gue”
“enggak tau”
“loe gak berubah”
“gue tau”
“ada kata lain enggak?”
“enggak tau”
“maaf deh, maafin yah”
“enggak tau”
“gue emang egois, keras kepala, jahat dan loe pasti tau”
“iya emang gua tau pake bangets. Loe juga tau gue gak bisa dipaksa. Tadi tuh ya gua masih kuat sebenarnya, tapi yah loe rese’ yaudah gua males-malesan aja”
“iyah, gue tau kok”
Tiba-tiba hening lalu beberapa menit kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini mereka akur. Entah apa yang mereka fikirkan.
***
Pagi hari embun membasahi flysheet tenda Rei yang berada di pos 2, sepertinya badai semalam masih akan berlanjut di hari itu. angin kencang yang berputar dan kabut yang menutup hanya memberi jarak pandang 2 meter kedepan saja sangat tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan. Beruntunglah tenda mereka berada di bawah naungan bebatuan sungai yang besar-besar sehingga mereka sedikit lebih aman.
“wah parah, kalo kayak gini gimana mau jalan?” kata Sandra
“wow, keren kapan lagi nih, di kota jarang ada badai alam” kata Kiki masih dengan gayanya yang aneh
“hus ngawur loe, ya terpaksa kita tinggal dulu” sambung Erica
“iya badai kencang banget, kita kesini liburan bukan cari mati” kata Danar dengan susunan kata yang mengejutkan dan beda dari biasanya.. Sandra nyeletuk “tumbeeen” 
“udah ahh yang penting kita sepakat” lanjut Erica sambil mengalihkan perhatian Sandra yang mulai sinis terhadap Danar.
“ehm gak jadi perang dunia neh” sindir Sandra lagi.
“gak ada perang, badai tuh di depan” tutup Kiki.
***
Badai menjebak mereka hingga 2 hari 2 malam. Dan pada hari ke tiga mereka memutuskan untuk kembali ke pusat camp di rumah keluarga Danar dan tidak melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sana, mereka pun beristirahat total. Waktu luang di isi dengan bertukar cerita saat berjuang melewati badai, saat menuruni bukit, berantem di jalan dan keluhan-keluhan yang menjadi bagian cerita seru lainnya. Kiki dan Sandra menghabiskan waktu di depan Tivi sedangkan Erica dan Danar tampak lebih sering bersama, ngopi di teras.
“Danar, thanks yah loe udah jadi guide yang baik”
“bukannya nyebelin? Haha biasa aja kok. Tapi kita nggak sampe muncak, belum rejeki loe liat trianggulasi”
“hehe gak papa setidaknya gue udah nyobain kan?”
“loe nggak nyesel?”
“enggak, gak banget. Apa yang gue dapet lebih dari yang gue fikir” kata Erica sambil senyum-senyum
“mmmmmm” gumam Danar sambil terus memandang Erica
“kita gak bisa munafik” lanjut Erica sambil terus menunduk dan tersipu malu.
“gue enggak pernah munafik, gue selalu jujur dengan apa yang gue fikirin. Loe aja tuh yang lebay”
“enak aja gue lebay, loe tuh keterlaluan”
“enggak usah mulai lagi deh, Erica gue tau apa yang loe fikirin. Gue ..gue juga..masih sayang ma loe, sayang banget”
“gue tau” jawab Erica datar
“terus???”
“gue enggak nyesel nggak bisa liat trianggulasi Latimojong di puncak sana, tapi gue dapet trianggulasi di hati elo”
( berpelukan )
Alam memang punya banyak cerita. Menunjukkan semua yang tidak biasa dari kehidupan normal. Apapun bisa terjadi di alam. Begitupun dengan alam cinta.

*** end ***

(cerpen ini kubuat setelah kembali dari pendakian di atap Sulawesi, puncak tertinggi pegunungan Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan 2012 lalu)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama