*re-post my eks-blog Soclamild93
Reinkarnasi Cinta
16.25
wita
17 juli
2008
Di
sebuah pemakaman
“sayang,
udah donk! Udah malem nih! Dia udah tenang di tempat barunya” bujuk mama
kepadaku. Aku tidak menggubris sedikitpun kata-kata mama. Air mataku masih
terus mengalir. Aku masih terduduk lesu memandangi batu nisan bertuliskan nama
“Muzhriadhin” yang seumur hidupnya disapa Edho’ olehku dan oleh teman-teman
sepergaulannya. Aku belum bisa menerima kenyataan Edho’ meninggalkanku. 2 tahun
lebih aku menjalin hubungan dengan dia. Tentu akan sangat tidak mudah bagiku,
tapi apa boleh buat. Ungkapan belasungkawa terus menghujaniku baik dari kawan,
keluarga, dan orang lain yang tahu tentang aku dan Edho’.
Ahh…sulit
dibayangkan apa jadinya hari-hariku esok tanpa dia, tanpa sms, telfon,
perhatian, kasih sayang dan keberadaan dirinya. I feel, I can’t breath
2 pekan sepeninggal
Edho’.
Aku masih
mengurung diri di kamar. Aku benar-benar mati rasa. Aku lupa arti kata lapar,
haus, sakit, bersih, bahkan aku sudah tidak mengerti apa arti hidup ini. Ya
Tuhan, terkadang aku sempat berfikir menerima ajakan mama untuk refreshing,
shopping, jalan-jalan di taman dan sebagainya. Tapi aku gak bisa, karena di
setiap sudut kota ini menyimpan kenanganku bersama Edho’ apalagi sejak
kecelakaan itu aku merasa trauma bahkan untuk melihat jalan raya sekalipun.
Kecelakaan maut yang merenggut kehidupanku.
***
Tok tok tok
Kulihat
mama muncul setelah mengetuk pintu kamarku dan dibelakangnya ikut pula Emhy,
Ryan dan Rathy. Mereka bertiga sahabatku. Yaph, sejak musibah yang menimpaku
mereka memang rutin menjenguk dan menemaniku sepulang sekolah. Hmmmm, my best
friend.
“nah,
sayang, tante tinggal dulu yagh? Kalian disini aja ” kata mama sambil melangkah
keluar meninggalkan kamarku.
“hai”
sapaku, yang dibalas senyuman ketiga sahabatku.
“sampai
kapan kamu kayak gini?” kata Ryan
“iya
Zie, sampai kapan? Kamu jangan egois gitu donk” sambung Emhy
“egois
gimana?” tanyaku
“ya
Egoislah Ziefah! Sejak musibah itu kamu udah nggak punya semangat hidup lagi,
kita ngerti perasaan kamu tapi setidaknya selain kehidupan almarhum kamu masih
punya kehidupan sendiri yang mana kamu bakalan dosa besar kalo menyia-nyiakan
hal itu!! Come on girl!! Mana Aziefah yang dulu!! Yang riang, semangat dan gak
kenal kata sedih!!” tutur Emhy menjelaskan.
Mereka
benar, aku gak boleh egois. Hidup memang selalu penuh cobaan dan tantangan. Dan
kita sebagai manusia harus bijak menghadapi hidup ini. Aku mengalihkan
pandanganku. Menatap foto ukuran 10 R di dinding kamarku. Fotoku bersama
almarhum. Sekilas kulihat ia tersenyum nyata padaku. Meski halusinasi. Tapi itu
cukup membangkitkan semangatku.
“ok guys,
I’ll try” kataku yang disambut pelukan hangat sahabat karibku.
***
Beberapa
tahun kemudian,
“enggakkkk……”
“Aziefah
sadar donk, dia Arga, dia orang lain bukan Edho” tutur Emhy
“kamu nggak
usah hibur dan bodoh-bodohin aku gitu donk, kamu nggak liat apa mereka tuh
mirip…hiks hiks..” kataku sambil terus menangis. Yah, lama skali setelah
sepeninggal almarhum aku mencoba membuka hati. Bertemu sosok yang kukenal
melalui handphone, pertemanan dunia maya. Orangnya baik, sopan dan aku rasa komunikasiku nyambung ma
dia. Namanya Arga. Dan setelah berhubungan selama kurang lebih 3 bulan barulah
aku siap diajak ketemuan ma dia. Sore ini, di sebuah caffe, aku datang bersama Emhy dan …
Ya Tuhan,
di sudut ruangan aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku merinding, Emhy
pun merasakan hal yang sama. Seseorang yang begitu mirip almarhum, mulai dari
penampilan dan hampir kesemua unsur yang ada di dirinya. Lebih parahnya lagi
ternyata orang itulah yang bernama Arga. Aku jelas tidak bisa dengan mudah
menerima semua ini. Luka lama yang sudah kutinggal mesti terkubur dalam-dalam,
mengapa harus terkuak kembali??? Inikah takdirku?
Aku berlari
kencang meninggalkan Arga dan Emhy di caffe tadi. Aku tak tahu kemana tujuanku.
Beban fikiranku terlalu berat dunia serasa berputar, aku terhuyung ke jalan
raya tepat di saat sebuah sepeda motor melintas.
***
Di rumah
sakit…
“E…E…Edhoo…”
“sayank,
kamu udah sadar…hiks hiks”
Q lihat
mama menangis di hadapanku. Perlahan kubuka mata. Semua putih bersih. Dimana
aku?
“ma..aku
dimana?” tanyaku
“sayang,
kamu kecelakaan depan caffe tadi, sekarang kamu di RS” mama menjelaskan sambil
terus meneteskan air mata. Kupandangi orang-orang di sekelilingku, ada papa, Emhy, Rathy, Ryan dan Arga…. Tatapanku pun terhenti lama pada Arga disertai
tangisku yang perlahan makin deras membasahi pipi. Tanpa kusadari orang-orang
meninggalkan kami berdua di ruangan ini. Sekarang hanya ada aku dan Arga.
“Ar…Arga…ma..maafin
aaku “ belum sempat aku melanjutkan kata-kataku Arga lalu mendekatkan telunjuknya
kebibirku.
“huss….sudahlah
teman-teman kamu udah ngejelasin semua ke aku” katanya
“harusnya
aku yang minta maaf!!” lanjutnya sambil tertunduk. Lalu terdiam sejenak dan
kembali berkata dengan serius
“jika aku
hanya beban bagimu dan bayang-bayang dari masa lalumu yang mengganggu
ketentraman hidup kamu,, gak papa hubungan ini kita akhiri, kamu boleh
ninggalin aku karena aku gak mau kamu sakit, tapi 1 hal yang perlu kamu tahu,
ini semua bukan atas kemauanku, ingat aku Arga dan selamanya tetap menjadi Arga
bagimu bukan yang lain”
Kata-kata
Arga barusan membuatku sadar. Dia benar. Aku harus bijak menghadapi masalahku.
Arga adalah Arga. Bukan Edho’. Dan selamanya akan tetap seperti itu. Akupun
memeluknya erat.
“kamu
benar, selamanya kamu adalah Argaku….Argaku”
“tapi
jangan paksa aku untuk operasi plastik wajahku???” kata Arga yang membuatku
tersenyum dalam pelukannya.
*the end
(cerpen ini kubuat saat masih kuliah, sekitar tahun 2012 lalu)
*the end
(cerpen ini kubuat saat masih kuliah, sekitar tahun 2012 lalu)