Palsu

adakah yang asli? adakah yang nyata? tidak dari segala sisi semua hal bisa dinyatakan bahwa itu benda nyata hanya karena ia memiliki fisik. Misalnya kekasih yang disebut pacar. Saya sedang menulis sebagai Lea yang bukan berarti memandang skeptis pada hubungan pacaran karena tidak pernah pacaran sehingga tidak mengerti esensi dan sensasi di dalamnya, bukan juga berpengalaman tapi saya cukup tahulah, hubungan itu palsu.

permainan, ikat-ikatan, saling menghargai yang irasional, menegur ini itu supaya dibilang perhatian, menjaga karena sayang (tapi dirusakin sendiri apa yang dijaga, misalnya handphone barang yang dibeli musti dijaga tapi berantem sama pacar dilemparin jadi hancur untuk mengibaratkan sehancur itu hatinya, iyakah? atau apa? saya pernah begitu, mungkin juga orang lain) dan hancur-hancuran hal lainnya. finally, hancur nama, rusak harga diri sebagai perempuan, dan buruk pula pandangan mengenai lelaki (yang notabene disalahkan) karena hubungan yang salah sebelumnya. ujung-ujungnya menjalani hubungan yang hanya pelampiasan, mencari kenyamanan yang tidak akan pernah di dapat, kenapa? karena laki-laki dan perempuan tetaplah manusia yang akan selalu punya salah dan akan bosan.

palsu banget kan namanya?
butuh ikatan dengan orang bisa diajak menjadi parnert yang tepat untuk 1 tujuan yang sama.
biar palsunya gak palsu-palsu amat.


saya Lea, yang penuh kepalsuan,
tapi setidaknya gak palsu-palsu amat. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama